Kita sering mendapati sisa makanan yang menyelip dan menempel di antara gigi dan bagian belakang gigi. Terlebih makanan berupa sayuran, kacang, dan daging-dagingan. Daripada malu ketika berbicara dengan orang lain dan terlihat sisa makanan, maka kita memilih memakai tusuk gigi untuk membersihkannya. Namun tanpa kita sadari, tusuk gigi ternyata memiliki efek yang buruk bagi gigi kita.
Menurut British Dental Journal (2013), tusuk gigi merupakan alat yang digunakan untuk membersihkan gigi saat sikat gigi belum ditemukan. Setelah sikat gigi dan dental floss (benang gigi) ditemukan, penggunaan tusuk gigi pun mulai berkurang. Beberapa penelitian menyatakan bahwa penggunaan tusuk gigi berdampak buruk terhadap gigi, terutama gusi. Bentuk ujung tusuk gigi yang tidak cocok dengan anatomi gusi dan gigi dapat menyebabkan gusi luka, bahkan hingga berdarah.
Celah sempit di antara gigi juga dapat melebar/longgar seukuran ujung tusuk gigi. Tak hanya itu, iritasi dan trauma yang berulang-ulang dari penggunaan tusuk gigi bisa menyebabkan epulis. Epulis sendiri memiliki ciri yang bisa kamu kenali. Beberapa di antaranya adalah adanya benjolan kecil di antara celah gigi, menyatu dengan jaringan gusi, lunak, berwarna pucat, tidak mudah berdarah, dan tidak sakit.
Untuk menangani epulis, dapat dilakukan pemotongan pada jaringan gusi serta tindakan kuret. Namun, kondisi ini bisa kambuh kembali jika kamu masih menggunakan tusuk gigi secara berlebihan, kasar, dan tidak tepat sasaran.
Sebagai pengganti tusuk gigi, kamu bisa memakai dental floss atau benang gigi untuk membersihkan sisa makanan yang terselip di antara gigi. Dental floss tidak hanya aman namun juga jauh lebih steril dibandingkan tusuk gigi yang terdapat di restoran-restoran.